Meynia

Seorang guru SD yang mengajar di daerah Tangerang. Asliku dari Bogor. Hobbyku membaca. Dengan belajar menulis, aku berharap suatu dapat membuat ...

Selengkapnya
Rokok Penyemangat

Rokok Penyemangat

Rokok Penyemangat

Temanku lucu banget... Namanya Pak Mutar. Usianya jauh diatasku. Dia guru yang sudah senior dan banyak pengalamannya. Seru kalau ngobrol dengannya, kocak tapi agak sedikit selebor suka semaunya juga kalau kerja. Ia guru yang mendapat mutasi di ke sekolahku. Orangnya ga suka didikte. Walau ia guru baru di sekolahku tapi aku tak mendapat kesulitan untuk beradaptasi dengannya. Orang seperti beliau harus banyak toleransinya hehe... Beberapa hari ia berada di sekolahku. Ia pernah marah-marah hingga tak mau lagi masuk ke ruang guru kumpul bersama ketika jam istirahat tiba. Ia lebih memilih istirahat di SD sebelah. Kebetulan SDku komplek. Waktu itu katanya ketika istirahat ia sedang merokok di ruang guru , beberapa orang guru marah, melarang dan menyuruhnya ke luar. Hingga kini jika ada guru itu ia tak lagi merokok di ruang guru. Kebiasaan merokoknya yang bagai kereta api sepertinya tak bisa dihentikan. Lucunya jika merokok, rokoknya ia nyalakan terbalik. Menurutnya sengaja ia balik karena katanya lebih enak. Ada-ada aja.

Hari ini pukul 10 aku masih di kelas karena belum selesai menjelaskan pelajaran matematika. Tiba-tiba ada anak datang di pintu .

"Assalamu'alaikum bu... "

"Wa'alaikum salam... Ada apa? " jawabku

" Bu... Ini ada surat dari Pak Mutar? "

"Pak Mutar ? Mang kemana Pak Mutarnya? "

"Ada bu... Di bawah " .

"Ya udah " kataku.

Kelasku berada di lantai dua. Bangunan sekolahku yang belakang dua lantai. Lantai atas yang terdiri dari dua ruang khusus untuk anak kelas V dan V1.

Ku buka kertas yang tadi diberikan anak. "Nia... Saya pusing, mulut asem nih". Itu isi suratnya dan di bawahnya ada tanda tangan beliau. Hehe... Aku ketawa membacanya. Rupanya dari tadi beliau menunggu aku ke bawah untuk istirahat .

Kubalas surat itu, dibawahnya ku tulis begini : "Minta aja dulu ke bibi, nanti saya yang bayar ". Ku bubuhi pula tanda tangan di bawahnya dan ku suruh anak untuk mengantarkan surat itu ke bawah, ke ruang guru. Dia sudah mengerti maksudku. sBibi kantin yang beliin dulu ke warung. Aku tahu dia pasti lagi ga punya uang untuk membeli rokok.

Aku suka ga tega melihatnya, kalau ga merokok mukanya selalu ditekuk dan terlihat muram. Mengajar saja sepertinya tidak semangat.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

kali sudah jadi ahli hisab memang agak susah mencegahnya tidak merokok, Tapi tetap harus disadarkan akan bahaya merokok

30 Jan
Balas

Iya bu...

30 Jan

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali