Meynia

Seorang guru SD yang mengajar di daerah Tangerang. Asliku dari Bogor. Hobbyku membaca. Dengan belajar menulis, aku berharap suatu dapat membuat ...

Selengkapnya
Sebuah Keikhlasan

Sebuah Keikhlasan


Sebuah Keikhlasan

Membaca isi buku Pak Zulfikri Anas sungguh sebagai guru merasa tersentuh dan terpukul. Tulisan yang sangat luar biasa ... sangat dan sangat menyentuh juga menginspirasi.

Menolak, memgabaikan dan mengeleminasi anak yang lemah dan bermasalah berarti kita telah dengan sengaja menepis uluran tangan Ilahi yang sengaja datang untuk merangkul kita masuk ke dalam pangkuan-Nya, berselimutkan rahmat, kebahagiaan, dan kedamaian abadi.

Teringat sebuah kisah

Saat itu menjelang akhir tahun dan kenaikan kelas semua orang tua sibuk pergi ke sekolah anaknya. untuk mengambil rapot. Ibu dan anak itu pun pergi ke sekolah. Sampai di sekolah ibu dari anak itu harus menemui wali kelasnya di ruang guru. Setibanya di sana dan menghadap guru, guru itu mengatakan. "Ibu ... Sebenarnya anak ibu pintar tapi karena anak ibu sering bolos ketika jam pelajaran, nilainya kurang dan ada yang di bawah kkm, jadi mohon maaf anak ibu tidak bisa naik kelas. Tapi bu ... jika ibu mau pindahkan anak ibu ke sekolah lain, saya mau ganti nilainya agar diatas kkm.

Apa artinya ini semua? berarti saat guru itu senang kepada muridnya, nilai pun akan menjadi bagus begitu juga sebaliknya. Inikah yang dinamakan pendidikan ??

Sekolah sebagai lembaga pendidikan dengan para guru-guru yang hanya mau menerima murid yang nurut dan manut saja. Tak menyadari bahwa individu itu berbeda. Dan tanpa usaha mencari solusi serta akar masalahnya, juga tanpa introspeksi dengan hanya menyalahkan anak saja. Ada apa gerangan?
Dimanakah guru yang tugasnya mendidik dan bukan sekedar mengajar?

Ibu itu pun hanya diam, tanpa banyak bicara , ia pun minta surat pindah. Tanpa menunjukkan kesedihannya ia berikan semangat kepada anaknya untuk bisa menunjukkan kepada meraka suatu saat bahwa tak selalu anak yang "nakal" menurut guru akan menjadi sampah . Allah lah yang berkehendak selama kita mau berusaha. "Do'a ibu menyertaimu ..." itu katanya.

Bertanya si Ibu kepada anaknya di rumah, kenapa suka bolos. Menurutnya ia bolos karena tak ada guru yang ngajar ketika jam itu. Anak itu memang aktif dan tak senang diam sejak kecil. Ia tahu bagaimana sifat dan karakter anaknya. Jika di rumah pun ia selalu senang dikaryakan dan diberi pekerjaan. Segala barang di rumah selalu dikoprek dan dibongkar. Pernah suatu hari mesin air di rumahnya tiba-tiba tidak jalan. "Nak... Tolong panggilkan Ibu tukang untuk memperbaiki mesin air !".
" Ga usah Bu... Ngapain manggil tukang, biar Deni aja yang betulin".
" Mang kamu bisa ? "
"Bisa Bu... ". Ia berkata sambil berjalan ke halaman rumah tempat mesin air dipasang. Dia bongkar dan benar saja, tak lama kemudian air pun jalan. Setelah kejadian itu, beberapa bulan kemudian ketika ibunya sedang mencuci, tiba-tiba mesin cuci berhenti berputar dan tak jalan. Setiap diisi air, airnya mengalir terus ke luar. Kembali si Ibu menyuruh anaknya. "Na... Tolong panggilkan Ibu tukang servis. Ibu mau nyuci, mesinnya tidak jalan".
"Tak usah Bu... Biar nanti Deni aja yang betulin ".
"Ya udah cepat... Ibu mau nyuci seragam !".
Kemudian ia pun membongkar mesin cuci. Tak beberapa lama ia berkata.
"Coba Bu... Itu mesinnya udah jalan lagi, banyak koin di dalam mesin", katanya.
Benar saja ketika si Ibu kembali mengisi air, airnya tak lagi mengalir dan mesin kembali berjalan.
Ibu itu pun tertegun. Ia bangga dalam hatinya. Ternyata anaknya yang selama ini terlihat malas sekolah tapi dapat ia andalkan dan dapat membantu setiap masalahnya.
Kali ini changer leptop si Ibu colokannya hilang, ia kembali menyuruh anaknya membeli colokan ke toko karena laptop tidak bisa dicas. Kembali ia bilang " Ngapain beli colokan, sambungin aja ke kabel bekas AC katanya ".
"Sambungin gimana, Ibu ga bisa ". "Ya udah... Nanti sama Deni aja, sini kabel Changer leptopnya !". Si Ibu langsung memberikan changer kepadanya.
"Coba ibu lihat gimana ?" .
"Ibu bawa sini leptopnya, masukan coba kabelnya !" . si Ibu pun membawa leptop ke kamar anaknya, karena bekas kabel AC itu ada di kamarnya. Eh... Benar saja nyala. "TerimaKasih nak... Alhamdulillah ". Kembali si Ibu senang karena uangnya selamat.

Ternyata menurut sebuah lembaga, anak seperti itu tidak diperlukan dan harus disingkirkan. Sebuah Renungan buat saya dan kita semua.






DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Luar biasa ibu, lannnnjuttttkan.

31 Jan
Balas

Terimakasih Pak... Semoga sehat selalu

31 Jan

Aamiin yamujibassailin

31 Jan
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali